Semut Rangrang, Patner Petani Organik dalam Mengendalikan Hama

Saat berada di kebun, pernah gak kamu menjumpai semut rangrang yang berkoloni di dedaunan. Mereka dengan sigap bahu-membahu bekerja sesuai tugas masing-masing. Semut rangrang memiliki dua strata, semut ratu dan semut pekerja. Semut ratu jantan dan betina berfungsi untuk menghasilkan keturunan. Sedangkan semut pekerja melakukan aktivitas penjagaan terhadap daerah teritorialnya, selain itu juga mencari makan.

Semut rangrang yang hidup berkoloni menguntungkan petani organik: republika.co.id

Semut rangrang dikenal sangat ganas dalam mempertahankan wilayahnya. Serangga ini memang tidak memiliki sengat yang membahayakan, namun gigitannya mengandung zat tertentu, yang terasa pedih saat digigit.

Serangga berwarna merah tersebut memiliki kebutuhan karbohidrat, protein dan lemak untuk hidup. Karbohidrat diperoleh dari zat gula, biasanya didapatkan dengan melakukan simbiosis dengan jenis kutu daun. Sedangkan protein dan lemak diperoleh dengan memangsa serangga lain misal ulat dan kupu-kupu.

Kebiasaan semut rangrang yang sebagai predator hewan lain tersebut dapat dimanfaatkan dalam dunia pertanian sebagai pengendali hama, terutama pertanian dengan model organik.

Baca juga: Kuliner Ekstrem Belalang Di Tuban yang Masih Ngehits Di Pedesaan

Petani dapat mengembangkan semut rangrang di sekitar perkebunannya. Cara mengembangkan semut rangrang liar sebetulnya tidak terlalu sulit. Tinggal mengambil sarang rangrang yang sudah besar dan di dalamnya terdapat ratu rangrang, kemudia di letakkan di kerumunan dedaunan yang mirip dengan habitat awalnya.

Untuk mempercepat semut beradaptasi dengan lingkungan baru, perlu dengan rutin disemprotkan larutan gula di sekitar sarang sebagai sumber karbohidrat. Sesekali juga perlu di beri wejangan berupa serangga, seperti jangkrik, kupu, belalang, ulat sebagai sumber protein dan lemak.

Kalau sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, koloni semut ganas tersebut akan semakin besar dan di dalamnya di hasilkan anak-anak rangrang yang biasanya disebut kroto. Semakin besar kolon semut rangrang,maka kelangsungan tanaman petani semakin terlindungi karena hama-hama pengganggu tanaman petani misalnya ulat dan belalalang merupakan makanan lezat bagi rangrang.

Semut koloni dengan keganasannya tersebut akan menjadi predator bagi hama pengganggu tersebut. Beberapa kali kami mengamati perkembangan semut tersebut di perkebunan buah di pekarangan rumah, ternyata memang sangat memberi dampak yang baik bagi tanaman tersebut. Misalnya pada tanaman jambu air yang biasanya sering diserang hama ulat daun. Sejak ada sarang semut merah tersebut, sudah dua tahun tidak pernah lagi ada serangan ulat daun. Dengan kualitas daun yang baik, maka proses pembuahan juga berlangsung baik sehingga hampir tiap musim berbuah, jambu air ini selalu menghasilkan buah yang lumayan banyak.

Bang Mimin :