Website vs marketplace: pilihan atau sinergi?

  • Whatsapp

Website vs marketplace. Pilih mana ya? Pasti banyak yang bingung ketika mengawali sebuah bisnis.

Sebelum memilih menggunakan marketplace, website, atau keduanya, perlu memahami dulu apa itu marketplace dan website. Termasuk semua hal yang terkait dengannya.

Marketplace

Marketplace merupakan media jual beli online yang di dalamnya banyak memuat produk jualan banyak toko. Jadi di dalam marketplace tersebut beraneka ragam produk yang dijajakan via daring.

Website vs marketplace

Lebih mudah analoginya, marketplace ini mirip pasar. Hanya saja bersifat online. Jadi ada toko Si A, Si B, dan lain-lain.

Contoh dari marketplace misalnya tokopedia, olx, blibli, shopee, dan masih banyak lagi marketplace yang mulai bermunculan. Meski hanya beberapa saja yang bisa digandrungi konsumen.

Keuntungan menggunakan marketplace antara lain, tidak perlu ribet mendesain toko online yang kita punya. Tinggal mengikuti sistem dalam marketplace saja.

Jualan di marketplace juga bisa buka 24 jam non stop. Tanpa harus nunggu terus.

Adapun beberapa kekurangan marketplace antara lain.

Marketplace memiliki sistem yang sudah paten dan tidak bisa kita tawar. Penentu desain toko, ongkir,  dan berbagai aturan dalam berjualan di dalamnya sudah ditentukan oleh sistem dalam marketplace yang bersangkutan.

Kadang kala, memakai marketplace A gini, kemudian menggunakan marketplace B gitu. Punya sistem yang berbeda.

Hal itu yang kadang membuat kurang puas saat menggunakan marketplace. Tidak ada kebebasan pemilik toko dalam menentukan kebijakan, peraturan, dan sistem dalam berjualan.

Website

Website dalam hal ini merupakan media online juga milik pribadi/ sekelompok orang yang digunakan khusus untuk menjual produk sendiri/ kelompok orang tersebut. Jadi, ya hanya satu toko saja milik pribadi/ kelompok orang saja. Sehingga varian produk juga tidak sebanyak marketplace.

Website vs marketplace

Kalau dianalogikan mirip dengan toko Si A saja, atau toko Si B saja.

Kalau punya toko sendiri, lebih bebas menentukan sistem, peraturan. Mau didesain seperti apapun, ya terserah si pemilik.

Namun, membangun toko sendiri tentu berat. Memakan waktu, biaya, tenaga, pikiran. Apalagi tidak punya bekal ilmunya.

Website pribadi ini bisa dikembangkan dalam bentuk landing page. Berisi profil toko dan tombol berisi tindakan, misal: Wa disini, pesan disini, dll.

Atau bisa juga dikembangkan berupa display produk jualan. Kalau yang berbentuk seperti ini namanya e commerce.

Kalau mau membuat website, harus tahu penyedia layanan domain dan hosting Indonesia yang recomended.

Banyak pilihan sebenarnya. Tapi sebagai pemula perlu juga di pertimbangkan terkait domain murah, hosting murah, pelayanan cepat, dan berbagai faktor lainnya.

Lalu pilih mana antara website vs marketplace?

Setelah membaca penjelasan di atas, bagaimana? Sudah bisa menentukan mau menggunakan marketplace, website, atau keduanya?

Website vs marketplaceKalau masih bingung, kami mau bercerita dikit tentang website vs marketplace yang pernah kami alami sendiri.

Kami punya usaha sayur organik. Dulu sempat membuat toko di marketplace. Ternyata kami pikir lagi tidak efektif masalah pengiriman. Karena sayur cepat busuk. Kalau terlalu lama di proses paska panen hingga sampai konsumen, maka resiko kerusakan besar.

Akhirnya kami membuat website untuk menulis yang berkaitan dengan usaha kami. Di dalam website ini ada subdomain yang berfungsi sebagai e commerce dengan nama toko Orgomart.

Website utama (orgomedia.com) ini berfungsi sebagai portal utama yang bisa menuju ke media sosial (facebook, instagram, youtub) dan e commerce.

Bisa juga di berikan link yang menuju ke toko di marketplace. Kalau di kami, karena terkendala dengan jenis produk, sehingga tidak memiliki akun toko di marketplace.

Link tersebut akan sangat berguna dalam meningkatkan kunjungan, bahkan pembelian dari marketplace. Kalau di kami, kunjungan ke media sosial juga ada peningkatan.

Website vs marketplace
Bagian footer dari orgomedia ada beberapa link menuju media sosial. Bagian ini juga bisa di setting ulang agar menuju ke marketplace sehingga memungkinkan pengunjung marketplace juga meningkat.

Orang berkunjung ke website, baca-baca artikel, melihat desain web, dan menelusuri semua isi web, kalau cocok dengan mereka, besar kemungkinannya mereka juga akan kepo dengan link media sosial maupun marketplace yang terpampang di beranda website.

Ibaratnya tadi kan website sebagai portal/ gerbang utama. Kalau kelihatan bagus, ada petunjuk lengkap, maka kemungkinan pengunjung juga tertarik untuk menelusuri isi di dalamnya.

Jadi menurut kami, website vs marketplace bukan pilihan. Tapi sinergi yang bagus untuk menguatkan marketing via online.

Tentunya dengan optimasi yang maksimal baik on page maupun off page. Sehingga rating website di mata google bagus dan akan berimbas juga pada media sosial ataupun e commerce yang tersambung dengan website tersebut.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

23 comments

  1. Saya sih, tergantung cari apa kakak. Kalau memang mencari sesuatu yang umum, saya cari harga murah di marketplace. Tapi kalau barang khusus, saya biasanya lihat di website yang memang punya spesifikasi jual barang khusus tersebut.

  2. Mantabs euy…
    Setuju sekali bg, website dan marketplace harusnya bersinergi dengan baik untuk saling menguatkan dalam marketing online.

  3. ibaratnya ya kl marketplace itu kayak satu mal yg di dalamnya ada banyak toko. Kl website khusus kan isinya satu macam aja dan ug berkunjung ke sana sudah pasti tau mau beli apa. Misalnya kl mau beli sayur organik, tinggal ke sini aja, gitu kan Mas… hehe

  4. klo untuk pemula yg produsen krna msh cari pangsa pasar ya mending pakai marketplace..tp.klo sdh ada pelanggan baru deh bikin website. sebaliknya klo pemula tp hnya reseller dropshiper dimana tdk pnya stok barang ya mending pakai marketplace ya..pengalaman sy begitu hihi

  5. Sekarang orang-orang ramai ke marketplce ya mba. Buat pemula kadang membuat website itu berat. Mungkin bisa bikinnya, tapi maintenancenya butuh tenaga, dan juga biaya. Kalo marketplace kita sudah menumpang ke penyedia yang sudah punya nama, seperti Tokopedia, Bukalapak, atau Shopee. Biayanya pun jauh lebih murah.

  6. Semuanya makin mudah ya k sekarang, baik marketplace atau website dua-duanya menjadi kebutuhan masa kini. Harus diikutin juga biar ga ketinggalan jaman.

  7. pribadi aku sebagai pembeli senengnya marketplace untuk produk2 baru mas. biar ada jaminan. tapi kalau udah bbrp kali aku senengnya website ya kaya beli sayur dan froxenfood gitu

  8. Zaman sekarang mah semua harus Sinergy satu sama lain. Kalo punya skill bikin website, ya bisa dimanfaatin buat memasarkan produk. Terus daftar juga di e-commerce. Apalagi sekarang sudah banyak startup yang memudahkan kita untuk bisnis online

  9. Seakan semua sudah habis di marketplace. Tapi, tetap saja ada hal yang kurangnya. Menurutku, ya bisa bersinergi. Website lebih menjangkau pemasarannya lebih detail.

  10. Jadi paham nih. Akhirnya ini bukan soal memilih web atau marketplace ya, tapi keduanya harus dimanfaatkan sama2

  11. Ada plus minusnya menggunakan website sendiri dan marketplace ya Mas, kalau untuk branding memang bagus pakai website sendiri menurut saya. Tapi kalau bisa menyinergikan keduanya jadi lebih bagus

  12. Kalau saya sebenarnya lebih nyaman di website saja belanja daripada marketplace. Tapi berharap websitenya itu responsif jadi ga kabur cari di marketplace. Kalau bisa ada diskon ongkir juga. Dan karena cuma 1 toko, bikin nggak mudah lapar mata.

  13. Dari keduanya, menurt saya sangat penting. Apalagi seperti sekarang yang segalanya serba susah. Melalui website kita dapat mencari berbagai informasi dan marketplace sebagai wadah untuk memasarkan usaha kita

  14. pasti ada plus minusnya ya mas, tapi enaknya klo usaha trus build website sendiri itu jadi bsia posting artikel2 terkait dengan barang jualan kita juga,, bagus sih klo di sinergikan dengan marketplace 🙂