Pertanian Organik dan Non Organik, Serupa tapi Tak Sama

Posted on
(Ilustrasi petani. Foto: davinioandi.blogspot.co.id)

Halo pembaca yang budiman. Heheee…. Jumpa lagi dengan tulisan saya tentang pertanian nih. Sebelum baca, saya mau tanya. Apakah pembaca sudah pernah konsumsi produk organik, misalnya sayur, buah, ikan atau olahan organik? Jika pernah konsumsi, berarti pernah beli kan? Harganya mahal ya? Belinya di supermarket atau langsung di petani?

Kalau beli di supermarket, ya sudah lupakan. Yang beli dipetani apa harga tetap mahal?( Pada serempak jawab “MAHAL”).

Harga sayur organik di petaninya langsung tidak mahal-mahal banget kok. Memang si, harga agak di atas produk nonorganik. Tau kenapa harga produk bisa agak tinggi gitu? Begini ni hasil analisis saya mengapa harga agak di atas produk biasa. Tani organik tidak semudah yang anda bayangkan, tingkat kesulitannya tinggi, dan hanya organg-orang yang mampu bersahabat dengan alam yang mampu melakukannya. Bersahabat kok dengan alam, maksudnya?

Begini agan-agan yang co cweet mau baca. Bersahabat dalam konteks ini adalah mau memperhatikan alam. Bagaimana cara agar alam tetap lestari, tidak tercemar, alam tetap sehat. Alam yang sehat akan membawa kesehatan bagi manusia juga. Kembali ke pertanian organik lagi jika dibandingkan pertanian non organik. Sama-sama dunia pertanian. Serupa, tapi tak sama.

Sebagai pembanding, misalnya dalam pengendalian gulma (tumbuhan pengganggu tanaman pokok). Petani biasa cukup menggunakan obat semprot pembasi gulma yang banyak beredar di toko pertanian. Dengan hanya bermodal satu botol, bisa mematikan gulma ratusan meter persegi. Berbeda dengan petani organik yang hanya mencabut gulma (jawa: matun), atau memasang mulsa (penutup tanah).

Dalam memilih mulsapun, petani organik harus bisa melihat bahan mana yang baik untuk menjaga alam agar tidak tercemar. Mulsa dapat terbuat dari daun kering, jerami padi, atau plastik. Bahan yang baik adalah daun kering dan jerami padi. Kedua bahan ini jika sudah lapuk dapat menjadi kompos yang bisa menyuburkan tanah. Beda halnya dengan mulsa plastik. Jika mengalami pelapukan akan mencemari alam, dimana dalam hal ini adalah tanah. Bahan plastik sulit terurai.

Untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan akibat HPT (Hama dan Penyakit Tanaman), pada umunya petani menggunakan pestisida, fungisida, insektisida sintetis. Sekarang semprot, keesokan harinya sudah berkurang HPT nya. Reaksi yang cepat dianggap solusi terbaik. Petani organik menggunakan pengendalian sistemik dalam mencegah HPT.

Misalnya lahan seluas 1000 m2, bagian tepi ditanami tanaman yang berbau nenyengat untuk mengusir serangga, misalnya rosemary dan sere.  Cara pengendalian seperti ini disebut repellent. Bagian yang lebih dalam ditanami lagi dengan tanaman yang berbunga warna-warni seperti bunga matahari dan kenikir. Saat berbunga, tanaman ini dapat menarik perhatian serangga seperti kupu-kupu sehingga tidak bertelur di tanaman pokok yang berada di lapis dalam. Pengendalian seperti ini disebut atraktan.

Setelah border yang bersifat repellent dan atraktan,  lapisan yang lebih dalam merupakan lapisan tanaman pokok.  Lebih baiknya, tanaman pokok ditanam secara tumpangsari, yakni dalam satu lahan ada beberapa jenis tanaman. Tujuannya untuk mengendalikan perkembangan HPT.

Selain menggunakan pengendalian dengan menggunakan tanaman lain yang bersifat repellent dan atraktan, juga dapat menggunakan alternatif lain. Yakni dengan menggunakan predator. Misalnya menggunakan koloni semut rangrang untuk memangsa koloni jenis kutu daun, ulat, atau jenis serangga lainnya.

Jika anda mencintai kesehatan anda, jangan ngeluh kalau harga sayur organik lebih mahal. Meminjam kata kangrudi.com, HAWONG pertanian organik ribetnya kayak gitu. Kalau harga di atas produk nonorganik, yoo wajar jeh.

7 thoughts on “Pertanian Organik dan Non Organik, Serupa tapi Tak Sama

  1. Sayur organik lebih segar daripada nonorganik, lebih fresh walaupun tersimpan di dalam ruangan sejuk atau berpendingin. Saya termasuk pengkonsumi sayuran organik, tapi kadang beli di supermarket spt buah Beet (bit), Lobak Putih, Sawi Putih, Terong Lalapan dll

  2. Sistem pertanian dulu sudah bagus utk lingkungan, utk manusia, tapi adanya tekhnologi utk menciptakan pupuk sintetis justru merusak. Namanya petani jaman dulu, pendidikan rendah, akhirnya mau saja menggunakannya. Giliran sekarang banyak calon petani yg sudah sarjana, malah gak mau tani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *