Pencemaran di kota Malang Masih Terjadi di Sudut-Sudut Kota

(Foto padi terdampak pencemaran di Gadang Kota Malang: Cak Ito)

( Foto pencemaran di Gadang kota Malang: cak ito)

Pencemaran di kota Malang tidak dapat dibendung lagi. Semakin lama, kota Malang semakin padat penduduknya, baik itu penduduk asli Malang, maupun penduduk sementara yang melakukan migrasi dari tempat lain. Penduduk yang migrasi tersebut bisa karena pekerjaan atau kuliah. Tak jarang juga mereka yang awalnya menetap di kota Malang hanya bersifat sementara, kemudia mereka membeli rumah dan menjadi penduduk tetap Kota Malang. Semakin meningkatnya kepadatan penduduk kota Malang, maka sudah jelas akan meningkatkan pencemaran di kota Malang.

Pencemaran di kota Malang, bisa di temukan di daerah Gadang. Masuk saja lewat Gadang gang 8 atau 10, sampai nanti ketemu dengan area persawahan yang mulai dialihkan untuk hunian. Di area persawahan tersebut ada sungai irigasi yang sudah dibangun pemerintah tentunya. Sepanjang sungai tersebut nampak air yang sudah tercemar dengan sampah padat dan cair.

Sampah padat yang mencemari air didominasi oleh sampah plastik. Sampah cair yang menyebabkan pencemaran kemungkinan limbah rumah tangga dari warga sekitar atau mungkin limbah dari industri di sekitarnya. Sampah padat tersebut sering terdampar di area sawah, terutama ketika musim hujan, sampah yang hanyut dalam air akan luber ke area persawahan. Kualitas air pun sangat buruk. Hal ini ditandai dengan perubahan warna air yang berwarna putih dan bau busuk.

Beberapa petak sawah yang ditanami padi, terlihat tidak maksimal. Pertumbuhan padi terhambat sehingga kualitas padi sangat buruk. Pencemaran di kota Malang ini butuh ulur tangan dari pemerintah kota  (Pemkot) Malang. Meskipun persawahan akan berubah jadi kompleks hunian, namun pencemaran tersebut perlu segera ditindaklanjuti agar tidak menggangu kesehatan warga kota Malang.

Meskipun di jantung kota Malang (area sekitar pemkot) memiliki kualitas tata ruang yang baik. Tempat sampah disediakan dalam jumlah yang cukup, taman pinggir jalan juga selalu di rawat, dan banyak pernah-pernik untuk memunculkan image bahwa kota Malang adalah kota dambaan karena kebersihannya. Namun hal ini berbeda dengan kondisi lingkungan di Gadang tersebut.

Baca Juga: Refleksi Diri Setelah Perayaan tahun Baru: Sudah Peduli Terhadap Lingkungan?

Berdasarkan paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kebersihan kota Malang belum maksimal dan belum merata. Terutama untuk wilayah yang agak jauh dari pusat kota dan jauh dari penglihatan masyarakat, kebersihan seolah tersingkirkan. Masyarakat pinggiran kota Malang tampaknya juga perlu adanya edukasi yang berhubungan dengan etika lingkungan. Terlebih mereka yang tinggal dekat dengan sungai, masih banyak yang memiliki kebiasaan membuang sampah dengan cara main lempar begitu saja ke sungai. Mereka sudah semestinya di edukasi agar pencemaran di kota Malang tidak terjadi lagi hingga sudut-sudut kota.

Cak Ito :