Mencari Kedamaian Hidup Dengan Bertani

Pak Warno merawat tanaman: Cak Ito

Siang sekitar jam 10. Di tepi jalan terlihat pria dengan usia yang sudah matang. Mondar-mandir mengutak-atik tanaman dalam polibag. Dengan kaos putih dan hamparan sarung menutup tubuhnya. Pak Warno sedang asyik berkebun di halaman depan rumahnya yang tidak begitu luas. Tidak seperti kebanyakan orang kota yang sibuk kerja hanya demi uang belaka, pak Warno berkebun untuk mencari kedamaian hidup.

Di depan rumah yang terletak di jalan kyai Parseh Jaya, Bumiayu Kota Malang, rumah pak Warno terlihat berbeda di banding ratusan rumah sepanjang jalan tersebut. Halaman rumah yang dipenuhi tanaman membuat rumah pak Warno tidak nampak mentereng. Namun, ketika sudah memasuki teras rumah, udara segar berhembus. Sekalipun rumah berada tepat dipinggir jalan dengan lalu-lalang kendaraan, rupanya tak mampu membuat udara di rumah pak Warno tercemar. Karbondioksida hasil pembakaran kendaraan bermotor bisa langsung diolah tumbuhan melalui fotosintesis dan menghasilkan oksigen yang dilepaskan ke udara bebas. Oksigen tersebut yang membuat udara sejuk. Sejuknya udara di antara julangan pohon hijau memang bisa menciptakan kedamaian hidup.

Rumah yang terletak di sebelah selatan jalan kecipir tersebut, dipenuhi oleh berbagai tanaman buah. Antara lain manuwo, durian, kelengkeng, jeruk lemon, jeruk bali, dan banyak jenis tanaman lainnya.

Tanaman-tanaman tersebut memiliki daya tarik tersendiri karena dari beberapa pohon disambung jadi satu. Seperti bibit durian, ada yang terdiri dari 2, 3, bahkan 12 batang. Karena terdiri dari beberapa pohon, biasanya disebut sebagai durian berkaki 2 (terdiri dari 2 batang), kaki 3 dan seterusnya.

Durian kaki tiga hasil sentuhan tangan pak Warno: Cak Ito

Berkat keterampilan pak Warno tersebut, nilai jual bibit durian bisa meningkat. Durian kaki 3 biasanya di bandrol dengan harga kisaran 50.000. Semakin banyak kaki, harga semakin tinggi. Bahkan ada tanaman sirsak kaki 3 yang dibuat tabulampot dan sudah berbuah, bisa tembus 500.000.

“Saat ini sudah ada yang langganan beli, untuk dijual lagi. Bahkan ini saya kekurangan barang. Belum waktunya jual, ada yang maksa mau bawa saja”, ungkap pak Warno dengan bahasa jawa khas Malang.

Pekerjaan pak Warno memang sudah jarang yang minat. Apalagi di perkotaan, berkebun atau bercocok tanam akan dihindari. Namun, bagi pak Warno, pekerjaan tersebut merupakan bentuk upaya cinta alam dan mencari kedamaian hidup. Merawat tanaman dapat mencegah kerusakan lapisan ozon. Selain itu juga merupakan bentuk upaya mengikuti jejak sang Rasul dan ajaran islam tentang etika terhadap lingkungan.

Cak Ito :