Banjir 2017, Siapa yang Salah?

(Ilustrasi banjir. Sumber: lenteraswaralampung.com)

Banjir 2017, terjadi di berbagai daerah. Hal ini berawal sejak datangnya musim penghujan yang dimulai pada bulan November lalu. Dalam waktu sekitar 1,5 bulan, hujan sudah membuat geger beberapa daerah seperti  Jakarta, Wonogiri, dan sejumlah daerah lainnya. Dalam waktu dekat ini memang yang paling heboh menjadi trending berita adalah Jakarta, selaku Ibu kota Indonesia. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan di sejumlah daerah juga terjadi banjir yang sama dengan Jakarta, atau bahkan lebih parah.

Seperti dilansir dalam media online kompas.com, detik.com, atau media yang lainnya, banyak sekali kemungkinan-kemungkinan penyebab banjir 2017 seperti di Jakarta. misalnya semakin menurunnya tanah di Jakarta, minimnya jumlah waduk karena beralih fungsi, dan masih banyak sebab yang lainnya.

Selain di Ibu Kota, juga masih banyak wabah banjir di sejumlah perkotaan. Yang jadi pertanyaan, siapa yang patut dipersalahkan dengan munculnya banjir tersebut? Sebelum tuding sana-sini, kita kupas bersama beberapa alternatif penyebab banjir 2017 di sejumlah daerah.

1. Banyak lahan beralih fungsi menjadi hunian

Di mana-mana sering dijumpai jual tanah kavling, ruko, perumahan, hotel, dan berbagai  jenis bangunan lain. Terutama wilayah perkotaan dan sekitarnya, tren penjualan tanah membludak. Dengan adanya tren alih fungsi lahan menjadi hunian, maka akan menyebabkan menurunnya lahan terbuka, dimana lahan terbuka merupakan “gudang” penyimpanan air. Air yang berada di permukaan tanah, pada akhirnya akan meresap ke dalam tanah. Prinsip pembangunan hunian menggunakan prinsip “maksimalisasi”. Sebisa mungkin tanah dimaksimalkan dengan bangunan, tanpa menyisakan sejengkal tanah untuk membuat kebun atau taman. Kadang menyisakan, tapi dibandingkan dengan luas bangunan, tanah yang tersisa sangat sedikit sekali. Memang tidak salah juga dengan prinsip tersebut, karena tanah di perkotaan mahalnya amit-amit. Harga per meter tanah bisa “berjut-jut”.

2. Pembangunan gorong-gorong kurang memadai

Gorong-gorong yang dibangun biasanya ukurannya kecil. Pada tahun-tahun pertama, memang aliran air bisa lancar, namun seiring berjalannya waktu, biasanya mulai tersumbat karena sampah atau pasir yang terseret air. Jika ingin bebas banjir seharusnya sudah didesain untuk jangka panjang. Termasuk bahan juga harus yang sip biar tahan lama. Tapi mau gimana lagi, kalau proyek perumahan, dana banyak terpotong masuk saku tidak jelas sehingga material untuk membangun juga kurang memadai.

Baca Juga: Pelajar Masih Perlu Peningkatan Kepedulian terhadap Lingkungan

3. Kebiasaan membuang sampah anorganik sembarangan

Sampah anorganik merupakan sampah yang sulit terurai. Butuh puluhan bahkan ratusan tahun untuk menguraikan sampah tersebut. Misalnya plastik, besi, kaca. Sampah anorganik yang masuk ke selokan atau gorong-gorong dapat memicu mampetnya saluran air. Hal ini yang mendorong meeluapnya air karena tidak bisa mengalir lancar.

4. Minimnya tumbuhan yang langsung tertanam di tanah

Karena lahan perkotaan sempit, sehingga sangat sedikit tumbuhan yang tumbuh langsung di tanah. Kebanyakan tumbuhan ditanam di polibag atau pot. Padahal, tumbuhan yang langsung tumbuh ditanah dapat membantu peresapan air permukaan. Akar tumbuhan yang tumbuh ke dalam tanah akan membuat pori-pori. Pori tersebut yang dapat mempercepat meresapnya air ke dalam tanah.

5. Minimnya biopori di perkotaan

Biopori merupakan lubang ditanah (dalamnya sekitar 1 meter). Lubang tersebut dimasuki paralon. Paralon yang sudah tertanam  diisi dengan sampah organik sampai penuh. Semakin lama, sampah akan menyusut karena menjadi kompos. Selanjutnya ditambah sampah organik. Begitu seterusnya. Dalam proses pembusukan sampah organik, akan dibantu berbagai organisme. Cacing, jamur, bakteri, dan sebagainya. Organisme tersebut akan membuat lubang (pori) di tanah. Lubang tersebut dapat membantu meresapnya air.

Sekarang kembali lagi ke permasalahan. Siapa yang patut dipersalahkan dan yang harus bertanggungjawab? Jawabannya: MANUSIA SENDIRI. Dalam setiap perilaku, manusia harus berpikir matang-matang. Terlebih yang berkaitan dengan alam. Memang alam tidak pernah protes seperti manusia. Tapi protesnya ya dengan tiba-tiba banjir, kekeringan, tanah longsor, atau bentuk fenomena alam lainnya.

Bang Mimin :