Sumber Energi Sampah Sebagai Solusi Kelangkaan Energi di Masa Depan
(Sampah organik/ basah: cak Ito)

Sumber Energi Sampah Sebagai Solusi Kelangkaan Energi di Masa Depan

Posted on

Sumber energi sampah menjadi kebutuhan yang mendesak untuk direalisasikan agar tidak bergantung pada sumber energi yang sulit diperbaharui seperti minyak bumi dan turunannya. Hingga saaat ini pemanfaatan sampah semakin giat dilakukan di berbagai tempat. Kelompok ibu-ibu yang tergabung dalam Perberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sudah banyak yang melakukan pemanfaatan sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual tinggi. Siswa di sekolah juga sudah diajarkan bagaimana mengolah sampah. Namun, kepekaan untuk menggarap sumber energi sampah masih minim dilakukan

Pengolahan sampah meliputi sampah organik, misalnya sisa nasi, daun, buah dan sampah sejenis diubah menjadi pupuk kompos. Demikian juga dengan sampah anorganik, misalnya kaca, plastik, besi, dll. Barang sisa tersebut bisa diubah menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi. Kebiasaan mengolah sampah tersebut perlu dibarengi dengan pemahaman tentang energi di Indonesia yang semakin hari semakin menipis karena Indonesia masih fokus menggunakan energi yang sulit diperbaharui. Dengan adanya pemahaman tersebut, maka dapat memicu peralihan ke sumber energi sampah.

Sejauh ini, manusia dalam melakukan setiap kegiatan membutuhkan sumber energi. Bahkan setiap satu sel tubuh manusia juga butuh sumber energi. Hal tersebut membuktikan bahwa sangat pentingnya energi bagi manusia. Sumber energi sangat banyak dan mungkin tidak terhitung jumlahnya. Namun sumber energi dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan sudut pandang tertentu. Misal kelompok sumber energi menurut kemampuannya untuk diperbaharui. Sumber energi mudah diperbaharui (renewable) dan sulit diperbaharui (unrenewable).

Contoh sumber energi yang renewable misalnya bahan pangan. Contoh unrenewable misalnya minyak bumi. Penggunaan sumber energi yang perlu mendapat perhatian lebih adalah sumber energi unrenewable. Setelah digunakan, kemudian habis, pengadaan sumber energi tersebut sangat sulit. Memakan waktu yang sangat lama, dan mungkin tidak bisa diadakan kembali.

Baca Juga: Atasi Permasalahan Limbah Sawit dengan Budidaya Jamur Merang

Beberapa puluh atau ratusan tahun yang lalu, penduduk Indonesia menggunakan kayu sebagai sumber energi panas saat memasak. Lama-kelamaan seiring perkembangan ilmu dan tekhnologi, manusia mulai menciptakan alat penambang minyak bumi. Kemudian mengubahnya menjadi berbagai bahan yang dapat dijadikan sumber energi. Salah satunya adalah minyak tanah. Terciptanya minyak tanah mendorong manusia untuk menciptakan alat yang disebut kompor minyak tanah. Pada masa-masa ini, masyarakat belum berfikir tentang sumber energi sampah.

Setelah lama digunakan ternyata minyak tanah mulai menipis dan digantikan oleh gas LPG hingga saat ini. Namun penggunaan LPG ini pasti juga ada batas akhirnya karena termasuk sumber energi yang sulit diperbaharui.

Bahkan akhir-akhir ini banyak pedagang mengeluh kiriman LPG sering tidak memenuhi jumlah permintaan. Apa sudah mulai langka? Kalau tanda-tanda kelangkaan sudah muncul seperti ini, masyarakat mulai mengeluh. Tentu mereka juga khawatir mau masak menggunakan apa kalau LPG tidak ada. Di saat-saat seperti ini, saatnya berpikir lebih bijak lagi dalam memanfaatkan sumber energi unrenewable dan melirik sumber energi renewable, salah satunya sumber energi sampah.

Dari tahun ke tahun, jumlah penduduk Indonesia akan terus meningkat. Kenaikan jumlah penduduk akan di imbangi kenaikan jumlah sampah di Indonesia. Dengan demikian, jumlah sampah tidak akan ada habisnya. Hal ini mengindikasikan bahwa sumber energi sampah dari tahun ketahun juga meningkat.

Menurut data yang dikutip dari republika.co.id, jumlah sampah mengalami kenaikan dari tahun 2015 ke tahun 2016. Di Tahun 2015, sampah yang dihasilkan Indonesia sekitar 64 juta ton, sedangkan tahun 2016 sebanyak 65 juta ton. Berdasarkan data tersebut, berarti selama setahun mengalami kenaikan sebesar 1 juta ton.

Sumber Energi Sampah Sebagai Solusi Kelangkaan Energi di Masa Depan
(Sampah organik/ basah: cak Ito)

Sampah yang dihasilkan manusia bermacam-macam. Ada sampah yang langsung dikeluarkan dari tubuh manusia dan ada yang berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia. Sampah yang dikeluarkan dari tubuh manusia secara langsung berupa feses dan air kencing. Sampah yang berasal dari kegiatan manusia misalnya sampah sisa sayur, sisa nasi, botol bekas minum, air bekas mandi, sampah sisa peternakan, pertanian dan sampah-sampah lain.

Baca Juga: Pelajar Masih Perlu Peningkatan Kepedulian terhadap Lingkungan

Semua sampah yang dihasilkan manusia dapat di kelompokkan berdasarkan kategori sampah basah dan kering. Contoh sampah basah antara lain sampah daun, kotoran kambing, kotoran manusia, sisa nasi, dan sebagainya. Sampah kering contohnya sampah plastik, kertas, botol bekas, dan lainnya. Sampah basah tersebut merupakan sumber energi sampah yang perlu dilirik.

Sampah basah bisa dijadikan sumber energi sampah karena mengandung gas metana yang sifatnya mudah terbakar. Sekarang tinggal bagaimana caranya membuat alat untuk menampung gas metana tersebut. Salah satu alat yang dikenal hingga kini adalah biogas digester.

Sumber Energi Sampah Sebagai Solusi Kelangkaan Energi di Masa Depan
(ilustrasi biogas digester: foa.org)

Pemerintah dan masyarakat seharusnya bisa lebih fokus dalam mengembangkan sumber energi sampah basah tersebut. Selain itu, juga perlu kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan alat yang dapat mengubah sampah basah menjadi biogas serta mendistribusikan alat tersebut ke semua lapisan masyarakat. Tersebarnya alat pembuat biogas ini, akan banyak membantu dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat cukup membeli alat ini satu kali kemudian memproduksi biogas dengan sampah basah yang dihasilkannya tiap hari. Tidak perlu setiap beberapa hari sekali membeli sumber energi untuk memasak seperti LPG dan minyak tanah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *