Produksi Pupuk Gapoktan Dewi Ratih Sukoanyar Terkendala Hujan

(Hadi Mulyo (kiri), Ketua Bagian Pengadaan Pupuk Gapoktan Dewi Ratih)

Produksi pupuk Gapoktan Dewi Ratih Sukoanyar, Kecamatan pakis berhenti sementara waktu selama musim hujan. Kegiatan pengolahan limbah sapi yang digagas Hadi Mulyo tersebut sudah berlangsung 3 tahunan. Namun ketika musim penghujan, terpaksa kegiatan di vakumkan karena terkendala proses pengeringan. Proses pengeringan hanya dilakukan dengan mengandalkan panas matahari. Selain itu, sarana proses pengeringan juga minim, tidak ada semacam green house yang bisa melindungi limbah sapi tersebut.

Sangat disayangkan jika musim penghujan tidak bisa memproduksi pupuk. Padahal ketika musim panas atau kemarau, permintaan pupuk sangat banyak.  Bahkan sempat menerima orderan dari balai pembibitan ratusan karung pupuk.

Belum lagi kebutuhan anggota kelompok tani, dan pembeli dari luar wilayah Sukoanyar  yang tentunya tidak sedikit. Karena terkendala hujan, produksi pupuk Gapoktan Dewi Ratih Sukoanyar dengan berat hati harus berhenti dulu.

Hadi Mulyo selaku kepala pengadaan pupuk, memang berkeinginan memiliki peneduh semacam green house yang portable, bisa buka-tutup sesuai keperluan. Ketika musim panas bisa diambil penutupnya sehingga bisa memperpanjang umur plastik penutup. Ketika musim penghujan dipasang lagi. Dengan adanya peneduh tersebut, akan bisa menstabilkan produksi pupuk meski musim hujan. Sekalipun ada penurunan produksi, tidak seperti saat ini yang mengalami penurunan 100% karena memang tidak bia memproduksi sama sekali.

Jer basuki mawa bea. Seperti itulah ungkapan dalam bahasa jawa yang artinya semua kegiatan butuh biaya. Termasuk halnya keinginan Gapoktan Dewi Ratih juga terkendala dana. Biaya pengadaan green house tidak sedikit.

Produksi pupuk gapoktan dewi ratih sukoanyar sering berhenti karena terkendala hujan, namun semangat akan bangkit lagi ketika musim kemarau tiba. Di antara sekian banyak anggota kelompok tani, memang Hadi Mulyo yang paling semangat dalam menjalani usaha pembuatan pupuk tersebut.

Motif Hadi Mulyo bukan terpacu pada uang, namun kesehatan lingkungan. Dulunya, masyarakat sekitar membuang limbah ternak ke saluran irigasi. Hal tersebut tentu berdampak pada perubahan air menjadi tercemar. Air yang tercemar dapat merusak kesuburan tanah dan tanaman. Selain itu juga sering menyumbat saluran irigasi.

Adapun rumah produksi dan sarana penunjang produksi adalah bantuan dari dinas terkait. Kalau tanah memang milik desa dan dipinjamkan untuk kegiatan pengolahan sampah. Langkah Hadi Mulyo patu di apresiasi, meski hanya berbekal ijazah SMA, namun pemikiran dan kinerjanya melebihi sarjana.

Bang Mimin :